Tuberculosis Can Be Prevented

Advertisement

cough

Health Tips Tuberculosis sufferers continues to increase, about 500,000 people per year. This increase occurred with the increase in people living with HIV / AIDS who are vulnerable to attackers of this lung-more than half of people with HIV / AIDS-infected with tuberculosis.

Tuberculosis caused by bacteria and transmitted through the air (airborne disease). The bacteria usually attack the lungs and can spread to other parts of the body through the circulatory system, respiratory tract system, and lymph channels.

Death

Tuberculosis sufferers if left untreated after 5 years 50 percent will die and 30 percent will cure themselves with a high body resistance, and 20 percent become “chronic cases” which remain infectious.

The symptoms of patients with tuberculosis, especially cough for 2-3 weeks and does not heal, a cold sweat at night, lethargy and reduced appetite so they lose weight. To test whether someone is infected with tuberculosis bacteria can be done by sputum examination twice (according to the International Standard for Tuberculosis Care / ISTC), namely sputum taken at the time when coming to the place of service and sputum collected the next morning.

Sputum examination can be performed in the clinic or hospital or other Health Laboratory. If the tuberculosis bacteria or commonly known as acid resistant bacteria in sputum is found, this indicates that the person is infected with tuberculosis bacteria.

Preventable

World Health Organization (WHO) states, tuberculosis disease can be prevented and treated. WHO is struggling through the STOP TB Strategy and supported by the global planning of reducing morbidity and mortality due to tuberculosis. In the year 2008 estimated there are 9.6 million-13, 3 million new cases and old ones. WHO report, 87 percent of successful recovery, the target of 85 per cent.

Tuberculosis prevention efforts are the main factors (priority). If we know how it is transmitted, it will be easier to handle prevention.

Some of those clues:

– Sufferers is asked to not spread the disease by closing mouth with a handkerchief or sleeve when coughing and sneezing, or using a mask. Need a standard respirator so that no bacteria inhaled.

– Provide good ventilation (cross Ventilation), so that particles from coughing or sneezing can be quickly diluted in the air so that the bacterial content is smaller.

– Prevention efforts are very important applied especially in hospitals, health centers, where crowds gather, such as in barracks, prison, and schools. A good air exchange speed in a room, according to WHO, at least 12 ACH (average change hour), air exchange occurs an average of 12 times per hour in the room.

For hospitals, health centers, and others, WHO recommends the separation of patients with coughs, from the moment the patient comes to the registration booth. Cough sufferers should be given masks to avoid coughing and sneezing bacteria spreads. Patients with symptoms of cough should be given priority service.

When speed and air volume is less,  mechanical effort can be used, using a table or standing fan (stand fan) with the right direction, or exhaust fan. This is important in bed room, treatment rooms, laboratories, and others. Special patient examination room in the hospital, other than wind speed 12 ACH.

To measure the air exchange, vaneometer is used , a very simple tool, a hollow box in which thin sheets hung like glass film. When there is wind into the box, the sheet will move,  the amount of elevation showed indicates air speed. Using a simple formula by including air speed, window length and room volume, ACH can be calculated.

Hospital, clinic, doctor’s practice is a place that is very sensitive to transmission of tuberculosis. These places should be given special attention because there are still many who do not meet the requirements in accordance with the standard air exchange. Most use the air conditioner and covers the windows with glass without installing exhaust fan.

The role of the government here is very important, especially for the Ministry of Health in order to improve effort to socialize cough ethics to the community, educate the community about the spatial structure with good air flow, making policies or regulations regarding health care facilities that meet the requirements for infection prevention and control of tuberculosis (PPI -TB). Making training for health workers to master the PPI-TB program. With these efforts very minimal cost when compared with treatment efforts for people with tuberculosis, on the other hand can also improve productivity for society.

pengidap tuberkulosis terus bertambah, sekitar 500.000 orang per tahun.

Peningkatan ini terjadi seiring dengan meningkatnya orang dengan HIV/AIDS (ODHA), pengidap yang rentan terhadap penyerang paru-paru ini—lebih dari separuh pengidap HIV/AIDS terinfeksi tuberkulosis.

Penyakit tuberkulosis disebabkan bakteri dan ditularkan melalui udara (airborne disease). Bakteri tersebut pada umumnya menyerang paru-paru dan dapat menyebar ke bagian tubuh lainnya melalui sistem peredaran darah, sistem saluran napas, dan saluran getah bening.

Meninggal

Pengidap tuberkulosis bila tidak diobati setelah 5 tahun 50 persen akan meninggal; 30 persen akan sembuh sendiri dengan daya tahan tubuh tinggi, dan 20 persen menjadi ”kasus kronik” yang tetap menular.

Gejala-gejala pengidap tuberkulosis, terutama batuk selama 2–3 minggu dan tidak sembuh-sembuh, keluar keringat dingin pada malam hari, lesu dan nafsu makan berkurang sehingga berat bedan turun. Untuk mengetes apakah seseorang terinfeksi bakteri tuberkulosis dapat dilakukan dengan pemeriksaan dahak sebanyak dua kali (menurut International Standard for Tuberculosis Care/ISTC), yaitu dahak yang diambil pada saat datang ke tempat pelayanan dan dahak yang ditampung keesokan pagi harinya.Pemeriksaan dahak dapat dilakukan di puskesmas atau rumah sakit atau Balai Laboratorium Kesehatan lainnya. Bila ditemukan bakteri tuberkulosis atau lazim disebut bakteri tahan asam (BTA) dalam dahak, hal ini menunjukkan bahwa orang tersebut terinfeksi bakteri tuberkulosis.

Bisa dicegah

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan, penyakit tuberkulosis dapat dicegah dan diobati. WHO sedang berusaha keras melalui STOP TB Strategy dan didukung dengan perencanaan global menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat tuberkulosis. Pada tahun 2008 diperkirakan terdapat 9,6 juta-13,3 juta kasus baru dan lama. WHO melaporkan, 87 persen berhasil sembuh—targetnya sebesar 85 persen.

Upaya pencegahan tuberkulosis merupakan faktor utama (prioritas). Kalau kita tahu cara penularannya, akan lebih mudah menangani pencegahannya.

Beberapa petunjuk untuk itu, antara lain:

– Diupayakan pengidap tidak menularkan dengan menutup mulut dengan sapu tangan atau lengan baju saat batuk dan bersin, atau menggunakan masker. Perlu respirator standar agar tidak ada bakteri terhirup.

– Mengupayakan ventilasi yang baik (cross ventilation), agar partikel dari orang batuk atau bersin dapat cepat terdilusi di udara sehingga kandungan bakteri lebih kecil.

– Upaya pencegahan sangat penting diterapkan khususnya di rumah sakit-rumah sakit, puskesmas, tempat berkumpulnya orang banyak, seperti di barak-barak, rumah tahanan, dan sekolah. Kecepatan pertukaran udara yang baik dalam suatu ruangan, menurut WHO, minimal 12 ACH (average change hour)—terjadi pertukaran udara rata-rata sebesar 12 kali per jam dalam ruangan.

Khusus rumah sakit, puskesmas, dan lain-lain, WHO menyarankan pemisahan pasien batuk, sejak saat pasien ke loket pendaftaran. Pengidap batuk diberi masker agar tidak menyemburkan batuk dan bersin. Pasien dengan keluhan batuk perlu mendapat prioritas pelayanan.

Bila kecepatan dan volume udara kurang, dapat dilakukan dengan upaya mekanik, yaitu menggunakan kipas angin meja atau berdiri (stand fan) dengan arah yang benar, atau exhaust fan. Hal ini penting dilakukan di ruangan tidur, ruang perawatan, laboratorium, dan lain lain. Khusus ruang periksa pasien di rumah sakit, selain kecepatan angin 12 ACH, juga perlu diperhatikan arah udara mengalir—bisa diperiksa dengan melihat arah asap saat kita membakar obat nyamuk.

Untuk mengukur pertukaran udara digunakan vaneometer, suatu alat yang sangat sederhana, berupa kotak berlubang yang di dalamnya tergantung lembaran tipis seperti kaca film. Bila ada angin masuk dalam kotak, lembaran tersebut akan bergerak, besaran elevasi yang ditunjukkan menandakan kecepatan udara. Menggunakan rumus sederhana dengan memasukkan kecepatan udara, luas jendela dan volume ruangan, ACH dapat dihitung.

Rumah sakit, puskesmas, tempat praktik dokter merupakan tempat yang sangat rawan terjadinya penularan tuberkulosis. Tempat-tempat tersebut hendaknya mendapat perhatian khusus karena masih banyak yang belum memenuhi persyaratan pertukaran udara sesuai dengan standar. Sebagian menggunakan pendingin udara dengan menutup jendela atau jalusi dengan kaca tanpa memasang exhaust fan. Juga masih ada ruangan perawatan di rumah sakit yang menggabungkan pasien tuberkulosis dengan bukan tuberkulosis atau ODHA. Hal-hal tersebut sangat riskan terjadinya penularan tuberkulosis.

Peran pemerintah sangat penting, khususnya bagi Kementerian Kesehatan agar dapat meningkatkan upaya penyuluhan etika batuk kepada masyarakat, mengedukasi masyarakat tentang tata ruang dengan aliran udara yang baik, membuat kebijakan atau peraturan tentang fasilitas ruang pelayanan kesehatan yang memenuhi persyaratan pencegahan dan pengendalian terhadap infeksi tuberkulosis (PPI-TB). Membuat pelatihan bagi petugas kesehatan agar menguasai program PPI-TB. Dengan upaya tersebut biaya yang dibutuhkan sangat minim bila dibandingkan dengan upaya pengobatan bagi pengidap tuberkulosis, di lain pihak juga dapat meningkatkan produktivitas bagi masyarakat.

Advertisement